POLUSI udara kini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberlanjutan ekosistem. Asap kendaraan bermotor, pembakaran sampah, serta emisi industri melepaskan partikel debu halus (PM2.5 dan PM10), gas beracun seperti ozon troposfer, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida.
Semua senyawa ini tidak hanya berbahaya bagi kesehatan manusia, tetapi juga memberikan dampak serius pada tumbuhan yang sehari-hari menjadi sumber pangan manusia dan hewan.
Daun sebagai organ utama fotosintesis merupakan titik pertama yang terpapar polusi udara. Secara anatomi, polusi dapat memicu penebalan kutikula sebagai bentuk pertahanan, perubahan jumlah serta distribusi stomata, hingga kerusakan sel-sel mesofil.
Partikel debu dan logam berat yang menempel pada permukaan daun akan menghambat difusi gas, sehingga penyerapan karbon dioksida berkurang. Pada level mikroskopis, paparan ozon berlebih dapat merusak membran sel dan kloroplas, yang pada akhirnya menurunkan kapasitas fotosintesis.
Menariknya, respons jumlah dan distribusi stomata terhadap polusi tidaklah seragam. Pada beberapa tanaman, polusi ozon atau sulfur dioksida justru memicu penurunan jumlah stomata atau lebih sering menutupnya sebagai mekanisme pertahanan untuk mencegah masuknya polutan.
Namun, pada jenis tanaman lain, peningkatan kerapatan stomata juga ditemukan sebagai bentuk adaptasi agar penyerapan karbon dioksida tetap berlangsung meskipun sebagian pori mungkin tersumbat partikel polutan.
Dalam banyak kasus, perubahan ukuran stomata menjadi lebih kecil atau pergeseran distribusi stomata antara permukaan atas dan bawah daun lebih sering terjadi daripada sekadar perubahan jumlah total.
Hal ini menunjukkan bahwa polusi udara dapat menimbulkan anomali perkembangan stomata yang secara langsung berdampak pada kemampuan fotosintesis tanaman.
Gangguan fungsi fotosintesis ini berdampak langsung pada kesehatan ekosistem. Tanaman tidak mampu mengikat karbon dioksida secara optimal, laju pertumbuhan menurun, dan daya serap polutan yang seharusnya menjadi peran alami tumbuhan justru ikut melemah.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa tingkat polusi yang tinggi dapat menyebabkan klorosis (daun menguning), nekrosis, hingga gugurnya daun lebih cepat dari siklus normal. Akumulasi kerusakan ini akan mengurangi efektivitas ruang hijau dalam menjaga kualitas udara.
Selain gas beracun, pembakaran sampah yang lazim dilakukan baik di perkotaan maupun pedesaan juga menjadi sumber masalah serius. Praktik ini sering dianggap cara cepat untuk mengurangi volume sampah, tetapi plastik yang dibakar tidak hanya menghasilkan dioksin berbahaya, melainkan juga melepaskan partikel mikroplastik ke udara.
Baca Juga: Presiden Prabowo Umumkan Bahasa Portugis Wajib Diajarkan dan Dipelajari Siswa Indonesia
Mikroplastik ini dapat menempel pada permukaan daun, terbawa masuk melalui stomata, bahkan terakumulasi di jaringan tanaman.
Lebih jauh lagi, mikroplastik tidak hanya mencemari udara, tetapi juga banyak ditemukan di tanah dan sumber air irigasi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa partikel berukuran sangat kecil (nanoplastik) mampu masuk melalui akar tanaman, terbawa aliran air di jaringan vaskuler, dan akhirnya terdistribusi ke batang maupun daun.
Jika hal ini terjadi pada tanaman pangan, seperti sayuran atau padi, maka mikroplastik berpotensi masuk ke rantai makanan manusia. Akumulasi mikroplastik dalam tubuh diketahui dapat memicu stres oksidatif, peradangan, hingga gangguan metabolisme.
Dengan demikian, pencemaran mikroplastik yang bersumber dari sampah plastik dan pembakarannya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi keamanan pangan dan kesehatan manusia.
Lebih lanjut, studi ilmiah terbaru juga menegaskan bahwa mikroplastik dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman dengan cara menyumbat pori-pori tanah, menghambat penyerapan air, merusak akar secara mekanis, mencegah ekspresi gen, hingga menimbulkan stres oksidatif.
Mikroplastik bahkan dapat mengubah karakteristik tanah, memengaruhi komunitas mikroba, serta mengubah ketersediaan hayati lain. Efek ini bervariasi antarspesies tanaman, tergantung pada jenis plastik, ukuran partikel, konsentrasi, dan kemampuan tanaman dalam menyerap polimer.
Implikasi terbesar dari masalah ini adalah potensi masuknya mikroplastik ke dalam rantai makanan melalui tanaman pangan. Jika partikel plastik sudah terakumulasi dalam jaringan tanaman, maka konsumsi manusia maupun hewan ternak berpotensi membawa partikel tersebut lebih lanjut ke sistem biologi yang lebih kompleks.
Dengan demikian, isu mikroplastik bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keamanan pangan yang menjadi prioritas global.
Kondisi ini mengingatkan kita bahwa ruang terbuka hijau tidak cukup hanya ditanam, tetapi juga harus dikelola dengan memperhatikan kualitas lingkungan sekitarnya.
Pemilihan spesies tanaman yang lebih toleran terhadap polusi, misalnya yang memiliki kutikula tebal, stomata tersembunyi, atau sistem pertahanan antioksidan kuat, menjadi langkah strategis.
Beberapa contoh tanaman yang terbukti mampu menyerap polusi udara antara lain trembesi (Samanea saman), mahoni (Swietenia macrophylla), tanjung (Mimusops elengi), beringin (Ficus benjamina), serta tanaman hias seperti sansevieria (Sansevieria trifasciata), paku boston (Nephrolepis exaltata), dan sirih gading (Epipremnum aureum).
Kehadiran spesies ini tidak hanya memperindah kota dan desa, tetapi juga berfungsi sebagai filter alami yang membantu mengurangi kadar polutan berbahaya di udara.
Untuk mengurangi dampak ini, masyarakat Indonesia dapat berperan aktif dalam menurunkan polusi udara dengan langkah sederhana namun berdampak besar.
Seperti berhenti membakar sampah terutama plastik yang menjadi sumber polutan berbahaya dan mikroplastik, melakukan pemilahan sampah untuk kompos maupun daur ulang, serta menanam vegetasi penyerap polusi.
Di sisi transportasi, penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil dapat dikurangi dengan berjalan kaki, bersepeda, memanfaatkan transportasi umum, serta mendorong peralihan ke kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan dan rendah emisi.
Upaya ini dapat diperkuat dengan mengedukasi generasi muda untuk peduli lingkungan melalui gerakan bersama seperti penanaman pohon dan kegiatan car free day.
Dengan konsistensi kolektif, langkah-langkah tersebut tidak hanya memperbaiki kualitas udara, tetapi juga melindungi tanaman pangan dan menjaga keamanan pangan bagi masa depan.
*) Penulis adalah dosen Fakultas Biologi UGM dan salah satu pendiri Bank Sampah Marcipul dan KWT (Kelompok Wanita Tani) Lestari di Padukuhan Sendari, Tirtoadi, Mlati, Sleman, DIY.
Editor : Sidkin