Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Suara Ibu, Puisi Karya Zuhrotul Maryam

Yulio Faruq Akhmadi
Ilustrasi Puisi Suara Ibu IIjal/Ai/Halo Jember)
Ilustrasi Puisi Suara Ibu IIjal/Ai/Halo Jember)

Advertisement

Suara Ibu

Ibu telah melahirkan namamu
Berbangsa pertiwi, Indonesia
Ibu telah mengasihi masa kanakmu
Dengan udara, tanah, air pusaka
Ibu telah membesarkan jiwamu
Dengan sejarah juang,
berpuluh-puluh tahun, untuk merdeka
Ibu telah jaga nadimu berdenyut,
Darahmu mengalir,
Dalam tubuh Nusantara.
Ibu telah jaga suaramu
Melenting menyanyikan lagu Tanah Air Beta
Ibu telah panggil namamu, dengan bangga
sebagai generasi penerus bangsa

Ibu telah banyak berdoa,
Atas keselamatan jiwa, akal
Dan hatimu yang paling utama

Advertisement

Ibu tidak pernah mengharapkan apa-apa.
Ibu hanya ingin diasuh di usia renta,
Dengan kejujuran yang sederhana
Tanpa kelit dan tipu daya
Dengan usaha yang penuh cinta
Tanpa saling serang dan adu domba

Tolong, dengarkan suara ibu 
yang menjerit melolong dari tanah Papua
dari hutan-hutan di Sumatera, 
dari konflik agraria di Maluku Utara,
Dengarkan suara ibu ini, walau
Kau sedang, berada di istana
Dengarkan suara ibu ini, walau
Kau sedang, dalam kemegahan kuasa
Dengarkan suara ibu ini, walau
Kau sedang menyandang bintang, 
berpangkat lima.
Dengarkan suara ibu ini, walau 
kau sedang menyelesaikan proyek sawit, 
yang tak ada tandingannya.
Dengarkan suara ibu ini, walau
Kau suka bermain-main di luar sana
Dengarkan suara ibu ini, 
Menjerit lelah
Mengharap pasrah,
Atas tangan dan hati mu yang tak lagi derma

Ibu telah berjuang sendiri
Sedangkan kau, hanya injak kaki
Tanpa tau rasa, 
Bagaimana harusnya berbakti.
Tanpa tau iba,
Pada kemanusiaan, yang
Dikunyah diemban oleh mulut sendiri.

Advertisement


Surabaya, 18 Mei 2026

Karya Zuhrotul Maryam, pengajar dan peneliti kajian sosial keagamaan yang kesehariannya dirayakan dengan termenung dan menulis puisi

Advertisement
Editor : Yulio Faruq Akhmadi

Artikel Terkait

Mari Bertukar, Puisi Karya Ulum Atina Izza R

Mari Bertukar, Puisi Karya Ulum Atina Izza R

bisakah kita bertukar bahasa cinta,  sayang?  karena lidahku sudah terlampau kelu,  tuk menjemputmu,

Bersemai di Pertemuan, Puisi Karya Salim Abuzaid

Bersemai di Pertemuan, Puisi Karya Salim Abuzaid

Bersemai di Pertemuan  Jantungku bergemuruh, irama berdebar memecah sunyi Luka yang telah lama tersimpan rapi Kian memudar ditelan waktu Sa

Jejak yang Berat tapi Tak Bersuara, Puisi Karya Intan Nur Syafitri

Jejak yang Berat tapi Tak Bersuara, Puisi Karya Intan Nur Syafitri

Saat jalanan tampak ramai Ada langkah yang menemukan sunyinya sendiri Suara langkah kaki diiringi dengan beban yang berat Mengajarkan hidup

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer