Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Luka yang Terobati, Puisi Karya Hafis Azhari

Sidkin
Penulis: Sidkin❯
Ilustrasi Puisi Luka yang Terobati. (Ijal/AI/Halojember)
Ilustrasi Puisi Luka yang Terobati. (Ijal/AI/Halojember)

Advertisement

 

Luka yang Terobati

Banyak sekali luka-luka sejarah
yang ditorehkan pada diri Rasulullah,
baik dari kaum musyrikin Qurays, kaum Thaif,
hingga komunitas Yahudi di Madinah.
Dalam Perang Uhud beliau pun terluka,
hingga tanggal giginya oleh hempasan anak panah
yang melesat dari busur para musuhnya.
Namun dalam peristiwa Fathu Makkah,
Nabi dan para sahabat memilih untuk melupakan
segala goresan luka di masa lalunya.
Rasulullah memberi maaf dan pengampunan
bagi mereka yang pernah menorehkan luka,
baik secara fisik maupun spiritual.
Beliau menolak dendam dan amarah.
Bukan seperti yang ditempuh raja-raja terdahulu,
baik Romawi, Mesir maupun Babilonia.
Yang terkenang dalam pikirannya
justru ketika Fatimah anak tercinta,
menyisiri rambut dan membersihkan kepalanya
dari lemparan-lemparan pasir kaum musyrikin,
juga ketika beliau bersender mesra di pangkuan Aisyah,
seakan menjadi obat penenang bagi luka-luka
yang ditorehkan musuh-musuhnya di masa lalu.

Advertisement

 

Karya Hafis Azhari, Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten.

Advertisement

Artikel Terkait

Perjalanan Setengah Windu, Puisi Karya Warjito

Perjalanan Setengah Windu, Puisi Karya Warjito

Perjalanan Setengah Windu Ku susuri sesak-sesak dan rindu Ku lewati suka-suka dan tawa Ku lewati pula hujan badai yang melanda Setengah windu tak melulu jalan lurus semata Ia adalah jalur selatan

Rencana dengan Tuhan, Puisi Karya Navisatul Amaliah

Rencana dengan Tuhan, Puisi Karya Navisatul Amaliah

Di ruang yang menelan arti kamar Ku patahkan tulangku sendiri Kurajut bersama kasur paruh baya menatap atap yang seolah mengerti: Bahwa hari ini adalah akhir dunia

Aku yang Selalu Belajar Mencintaimu, Puisi Karya Najib Fachruddin Thoha

Aku yang Selalu Belajar Mencintaimu, Puisi Karya Najib Fachruddin Thoha

Aku yang Selalu Belajar Mencintaimu. Seperti malam-malam sebelumnya, Mengenalmu lebih dalam adalah pekerjaan yang baik untuk mengekalkan waktu dengan diam. Malam itu aku ingin mengurai rambutmu.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer