Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Tidak Banyak yang Tahu, Ki Hajar Dewantara Bapak Pendidikan Nasional Adalah Bangsawan Keraton Pakualaman Yogyakarta

Dwi Siswanto • Rabu, 25 Juni 2025 | 01:02 WIB
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional (Foto: Pinterest)
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional (Foto: Pinterest)

HALO JEMBER - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati hari Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghormatan kepada sosok pahlawan pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara.

Ia merupakan tokoh besar yang berperan terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia, perjuangannya dalam dunia pendidikan membukakan pintu bagi seluruh rakyat Indonesia agar bisa mendapatkan akses ke pendidikan tanpa memandang kelas ataupun status sosial.

Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, Ki Hajar Dewantara merupakan bagian dari keluarga bangsawan Keraton Pakualaman.

Namun, ia justru menanggalkan gelar kebangsawanannya agar bisa lebih dekat dengan rakyat dalam dan memperjuangkan hak-hak mereka.

Ki Hadjar Dewantara kemudian mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922 sebagai wujud manifestasinya dalam membebaskan rakyat dari kebodohan.

Taman Siswa merupakan lembaga pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai kebudayaan nasional, kebebasan berpikir, serta pembentukan karakter siswa.

Didirikannya Taman Siswa ini menjadi cikal bakal berkembangnya pendidikan nasional yang inklusif dan lebih humanis.

Ki Hadjar juga dikenal lewat semboyannya yang sangat terkenal: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” – yang artinya “di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.”

Filosofi ini kemudian membakar semangat pendidikan di Indonesia kala itu, hingga saat ini digunakan sebagai semboyan dalam logo Kemendikbud, yakni semboyan “tut wuri handayani”.

Secara filosofis, semboyan ini menekankan pentingnya pendidik untuk mendukung dan membimbing siswa dari belakang, memberikan dorongan dan arahan, bukan hanya memimpin dari depan

Selain sebagai pendidik, Ki Hadjar juga terjun dalam dunia jurnalisme dan politik.

Ia bahkan pernah diasingkan ke Belanda saat masa pemerintahan kolonial sebab tulisan kritisnya terhadap penjajahan.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus memperjuangkan pendidikan bangsa Indonesia.

Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal lahir Ki Hajar Dewantara sebagai Hari Pendidikan Nasional, tepatnya pada setiap tanggal 2 Mei.

Ia juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas dedikasinya terhadap bangsa dan negara, terutama di bidang pendidikan.

Warisan perjuangan Ki Hadjar Dewantara kini terus hidup dalam jiwa bangsa Indonesia.

Di tengah kemajuan teknologi dan berbagai tantangan dalam dunia pendidikan, nilai-nilai yang telah diajarkan Ki Hadjar tetap menjadi pedoman yang terus menuntun generasi bangsa menjadi generasi yang cerdas, mandiri, dan berkarakter.

Sejarah Kecamatan Pakualaman

Kecamatan Pakualaman terdiri dari dua kelurahan, tujuh kampung, sembilan belas RW, dan delapan puluh tiga RT dengan luas 0,63 km2 .

Wilayah kecamatan ini dinamakan Pakualaman karena ada di sekitar Puro Pakualaman, yaitu kompleks istana bagi keluarga Paku Alam sekaligus pusat pemerintahan Kadipaten Pakualaman.

Kadipaten Pakualaman merupakan salah satu dari empat kerajaan selain Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Kadipaten Praja Mangkunegaran yang berstatus swapraja pada masa kolonial Belanda.

Wilayah kekuasaan Kadipaten Pakualaman diantaranya adalah kawasan sekitar Puro Pakulaman (wilayah Kecamatan Pakualaman sekarang), Adikarto (sebagian wilayah Kulon Progo sekarang terutama sisi selatan), Karang Kemuning yang terdiri dari empat distrik, yaitu Galur, Tawangharjo, Tawangsongko, dan Tawangkerto, dengan Brosot sebagai pusatnya (Hadiyanta dan Pancaputra, 2008: 33).

Baca Juga: Cerita Jemaah Haul Abu Bakar Assegaf Gresik yang Rutin Hadir Selama 30 Tahun Terakhir, Selalu Rindu Suasananya

Puro Pakualaman dibangun di atas tanah seluas 54.238 m2 oleh Pangeran Natakusuma atau yang kemudian bergelar KGPA Paku Alam I (pendiri Kadipaten Pakualaman).

Penulis: MG25 Hafidzah Aulia Salsabila

Editor : Dwi Siswanto
#pendidikan nasional #Keraton Pakualaman Yogyakarta #ki hadjar dewantara #Ki Hadjar #bangsawan