Halojember - Nama idol grup JKT48, Raden Rara Freyanasifa Jayawardana atau yang akrab disapa Freya, mendadak ramai diperbincangkan setelah ia melaporkan dugaan penyalahgunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) ke polisi.
Lalu sebenarnya apa yang terjadi pada foto idol tersebut?
Kasus ini bermula ketika Freya menemukan sejumlah foto dirinya beredar di media sosial dalam kondisi yang telah dimanipulasi menggunakan teknologi AI.
Foto asli yang diambil dari aktivitasnya sebagai idol diduga diedit sedemikian rupa hingga menampilkan gambar yang tidak pantas dan merusak citranya.
Manipulasi tersebut kemudian disebarkan oleh sejumlah akun anonim di media sosial. Konten yang beredar membuat Freya merasa dirugikan karena gambar tersebut bukan foto asli, melainkan hasil rekayasa digital.
Merasa dirugikan, anggota JKT48 itu akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polres Metro Jakarta Selatan. Laporan tersebut terkait dugaan manipulasi konten digital menggunakan AI yang dinilai merugikan nama baiknya.
Dalam laporan tersebut, Freya juga menyerahkan sejumlah bukti tangkapan layar dari konten yang beredar di media sosial.
Polisi kemudian mulai melakukan penyelidikan untuk menelusuri akun-akun yang pertama kali mengunggah maupun menyebarkan foto manipulasi tersebut.
Pihak kepolisian juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap Freya untuk dimintai keterangan sebagai pelapor sekaligus korban dalam kasus ini.
Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk memperjelas kronologi kejadian serta memperkuat bukti yang telah dilaporkan.
Kasus ini turut menjadi perhatian karena melibatkan teknologi AI yang digunakan untuk memanipulasi foto seseorang, atau yang sering disebut sebagai deepfake.
Teknologi ini memungkinkan gambar asli diubah secara digital sehingga tampak seperti foto baru yang berbeda dari kenyataannya.
Jika terbukti melanggar hukum, pelaku penyebaran konten manipulasi tersebut dapat dijerat dengan aturan pidana terkait penyebaran konten elektronik yang merugikan pihak lain.
Kasus yang dialami Freya juga menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi AI tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga dapat disalahgunakan untuk membuat konten palsu yang merugikan orang lain, terutama figur publik.(yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi