HALOJEMBER – Dalam khazanah hadis Islam, kisah Uwais al-Qarni menduduki posisi yang sangat istimewa.
Sosok yang nyaris tidak dikenal penduduk bumi ini, ternyata sangat populer di kalangan penduduk langit. Kisah menakjubkan ini diabadikan dalam Shahih Muslim, salah satu kitab hadis paling otentik.
Berdasarkan riwayat dari Usaid bin Hudhair, Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai sosok sebaik-baik tabi'in (generasi setelah sahabat) yang berasal dari Yaman.
Baca Juga: Kisah Nyata, Bakti Anak Miskin Yaman: Latih Fisik Gendong Kambing, hingga Gendong Ibu Haji ke Makkah
Rasulullah SAW bersabah:
"Sesungguhnya tabi'in yang terbaik adalah seorang laki-laki yang bernama Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan ia memiliki tanda putih (bekas kusta) di tubuhnya. Maka, perintahkanlah ia untuk memohonkan ampunan (doa) untuk kalian." (HR. Muslim).
Pesan Nabi kepada Umar bin Khattab
Lebih lanjut, Nabi SAW berpesan kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk mencari Uwais. Jika bertemu dengannya, Umar diminta meminta Uwais memohonkan ampunan kepada Allah untuknya.
Baca Juga: Keutamaan Hari Arafah dalam Islam, Momen Istimewa saat Ibadah Haji
Umar bin Khattab Mencari Uwais
Sebagai bentuk ketaatan kepada sabda Rasulullah, Khalifah Umar bin Khattab selalu menanyakan keberadaan orang-orang dari Yaman yang datang ke Madinah setiap tahun.
Kisah penantian itu berakhir saat Uwais berkunjung ke Madinah. Umar menemui Uwais dan bertanya, "Apakah engkau Uwais bin 'Amir?"
"Benar," jawabnya.
"Dari Murad, kemudian dari Qaran?" tanya Umar lagi.
"Benar," jawabnya.
Umar kemudian memastikan tanda putih di tubuhnya. Setelah yakin, Umar menyampaikan pesan Rasulullah agar Uwais mendoakan ampunan baginya. Uwais pun memenuhi permintaan Khalifah tersebut.
Baca Juga: Berikut ini Catatan Penting saat Ibadah Wukuf di Arafah
Hikmah di Balik Kemasyhuran
Uwais al-Qarni adalah sosok yang hidup dalam kemiskinan dan berbakti sepenuhnya kepada ibunya yang lumpuh.
Meski tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW (sehingga digolongkan Tabi'in), kesalehannya membuat Allah menjadikannya "sebaik-baik tabi'in" atas kesaksian Rasulullah.
Kisah ini mengajarkan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dari jabatan atau ketenaran di dunia, melainkan dari ketakwaan dan bakti kepada orang tua.
Editor : Hariri HJ