Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mengenal Kyai Sekar Ponpes Al Amri Leces Probolinggo. Dikenal Ahli Tasawuf

Dwi Siswanto • Rabu, 29 Mei 2024 | 02:40 WIB
UNTUK TIRAKAT: Kamar yang digunakan Kiai Muhtadin atau Kiai Sekar Al Amri untuk tirakat. Bangunan ini masih asli, hanya atap yang direnovasi dan dicat ulang. (Radar Bromo Jawa Pos)
UNTUK TIRAKAT: Kamar yang digunakan Kiai Muhtadin atau Kiai Sekar Al Amri untuk tirakat. Bangunan ini masih asli, hanya atap yang direnovasi dan dicat ulang. (Radar Bromo Jawa Pos)

HALO JEMBER - Peran Kyai Muhtadin atau Kyai Sekar dalam menyebarkan agama Islam di Probolinggo memiliki sejarah panjang. Ponpes Kiai Sekar yang berada di Desa Leces, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo itu berdiri tahun 1850.

Artinya Ponpes tersebut usianya sudah satu abad lebih. Bahkan, Ponpes Kiai Sekar sebagai salah satu pesantren tertua di Probolinggo. Selain terkenal dengan mendirikan Ponpes tertua di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Kyai Sekar juga dikenal sebagai ahli tasawuf.

Kiai Sekar sendiri dikenal sebagai kiai yang alim, sehingga sangat disegani saat itu. Murid-muridnya tidak hanya berasal dari Probolinggo. Namun, hingga Kabupaten Lumajang dan Jember.

Pada perkembangannya, Ponpes Kiai Sekar ini kemudian berganti nama menjadji Ponpes Al Amri sekitar tahun 1990-an. Lokasinya sama, hanya namanya yang kemudian berubah.

“Sebelum berdiri Ponpes Kiai Sekar yang saat ini dikenal sebagai Ponpes Al Amri, Desa Leces, saat itu masih berupa rawa. Kiai Sekar sepuh ini membabat alas di desa ini,” kata Gus M Hasanuddin, cicit Kiai Sekar.

 Berbeda dengan kiai khos seperti Syaikhona Kholil Bangkalan yang mengajarkan syariat atau ilmu fikih. Kiai Sekar memilih mengajarkan ilmu tasawuf dan tauhid. Kealimannya dalam ilmu tasawuf diakui oleh masyarakat dan para ulama saat itu.

 Salah satu ajaran Kiai Sekar dalam ilmu tasawuf yang masih lestari sampai saat ini adalah dudusan. Caranya, melakukan tirakat semalaman dan bersedekah ternak. Seperti ayam, sapi, atau kambing. Ternak ini disembelih, kemudian dimakan bersama. Dan dilanjutkan dengan mencuci pusaka yang dimiliki.

 Dalam ajaran dudusan ini, Kiai Sekar tetap menekankan atau mengedepankan konsep tauhid. Dia mengajarkan, tidak ada pusaka yang sakti. Semata-mata itu berasal dari Allah. Sama seperti kekuatan yang dimiliki oleh seseorang, semuanya juga dari Allah.

 “Kiai Sekar diakui sebagai ahli tasawuf. Sehari-harinya ia suka tirakat. Ajaran dusdusan darinya masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat di wilayah Leces dan Tegalsiwalan sampai saat ini,” terang generasi keempat ini.

Sebagai ahli tasawuf, keilmuan dan kealiman Kiai Sekar diakui oleh banyai kiai besar lainnya. Di antaranya, Kiai Hasyim Asy’ari atau yang dikenal sebagai Hadratus Syaikh. Pendiri Nahdhatul Ulama ini bahkan pernah berguru pada Kiai Sekar.

 Gus M Hasanuddin, cicit Kiai Sekar mengatakan, cerita bahwa Kiai Hasyim pernah berguru pada buyutnya itu disampaikan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur menceritakannya saat menghadiri haul Kiai Sekar pada 2006 di Ponpes Al Amri di Leces.

 Di hadapan ribuan jamaah yang hadir dalam haul itu, Gus Dur menyebut bahwa Kiai Hasyim pernah berguru pada Kiai Sekar. Saat itu, Kiai Hasyim datang ke Ponpes Kiai Sekar dan nyantri tidak sampai setahun.

Ia juga tidak tahu pasti apa yang dipelajari oleh Kiai Hasyim dari Kiai Sekar. Namun, diyakini Kiai Hasyim nyantri sebelum kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Sebab, Kiai Sekar wafat sebelum Indonesia merdeka.

Photo
Photo

 “Kami di sini baru tahu bahwa Hadratus Syaikh pernah berguru pada buyut kami dari cerita Gus Dur saat memberikan ceramah di acara haul itu. Cuma nyantri-nya tahun berapa, saya kurang tahu pasti,” katanya.

 Setelah Kiai Sekar wafat, anak keturunan Kiai Sekar tetap mengembangkan ponpes setempat. Mulai dari Kiai Sekar Anom, kakek dari Gus Hasanuddin hingga Kiai Suhud, ayah dari Gus Hasanuddin.

 Kini, Ponpes Al Amri dikembangkan lebih modern.  Santrinya mencapai lebih dari 600 orang. mereka berasal dari seputar wilayah Leces hingga Kecamatan Ranuyoso, Klakah dan Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang. Ada pula santri yang berasal dari Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember.

 “Saat Kiai Sekar masih hidup, pesantren ini memang khusus mengajarkan ilmu tasawuf. Semenjak Kiai Sekar wafat, kami juga mengajarkan ilmu fikih. Beliau dimakamkan di Sumberkedawung, Leces,” tutur Gus Hasanuddin.

Sumber: Diolah dari Jawa Pos Radar Bromo

 

Editor : Dwi Siswanto
#ponpes al amri #Leces #Kyai Sekar #tasawuf #probolinggo