HALOJEMBER – Sidang isbat penentuan 1 Syawal atau hari H Idul Fitri hingga berita ini ditulis belum diputuskan.
Sidang ini berlokasi di Auditorium Kementerian Agama RI, Jakarta. Sidang masih ditunda dan akan dilanjutkan pada 29 Ramadan, Pukul 19.30 WIB atau setelah Maghrib WIB.
Saat sidang, Suasana sempat tegang. Tim Rukyat dari berbagai daerah melaporkan hasil pengamatan hilal.
Baca Juga: Sidang Isbat, Simpulkan Awal Puasa Jatuh Hari Kamis 19 Februari 2026
Berikut percakapakan sidang Isbat digelar Kamis 19 Maret 2026:
Moderator (Dirjen Bimas Islam):
"Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bapak/Ibu pimpinan ormas Islam, tim ahli astronomi, dan MUI. Kita masuk ke sesi krusial. Berdasarkan pemaparan, posisi hilal memang sudah di atas 3 derajat di beberapa tempat, namun laporan rukyatul hilal di 34 titik pemantauan menunjukkan hasil yang tidak merata. Ada laporan 'hilal terlihat samar' di Jawa Timur, tapi 'mendung/hilal tidak terlihat' di wilayah barat seperti Aceh dan Lampung. Bagaimana pandangan forum?"
Perwakilan Muhammadiyah:
"Bismillah. Berdasarkan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang kami gunakan, hilal sudah wujud di atas ufuk. Secara astronomis, 1 Syawal jatuh besok. Kami menghormati proses rukyat, namun hisab sudah final secara perhitungan. Kami mengusulkan sidang isbat ini hanya menetapkan hasil ilmiah saja tanpa perlu menunda pengumuman, agar kepastian hukum bagi masyarakat segera didapat."
Perwakilan Nahdlatul Ulama (NU):
"Izin menyampaikan. NU tetap berpegang pada rukyatul hilal sebagai pembenaran hisab. Jika laporan rukyat tidak memenuhi kriteria imkanur rukyat (kemungkinan terlihat) secara meyakinkan, apalagi di wilayah Barat (Aceh/Sumut) mendung, maka secara fikih lebih ikhtiyat (hati-hati) untuk menggenapkan Ramadan menjadi 30 hari (Istikmal). Kita tidak bisa memaksakan 1 Syawal jika hilal belum terlihat jelas."
Tim Ahli Astronomi/BMKG:
"Secara data ilmiah, hilal memang berpotensi terlihat, tetapi memang posisinya berada di ambang batas kriteria MABIMS (3 derajat, elongasi 6,4). Kondisi cuaca mendung di wilayah Barat menyulitkan pengamatan visual. Jadi, terjadi perbedaan interpretasi antara data hisab dan visibilitas hilal di lapangan."
Perwakilan Ormas Islam Lain:
"Ini sulit. Jika kita putuskan besok lebaran, tapi ternyata tadi sore tidak terlihat, bagaimana pertanggungjawabannya? Namun, jika kita tunda, umat di bawah sudah bersiap takbiran. Apakah pemerintah akan mengambil jalan tengah?"
Ketua Sidang (Menteri Agama):
"Bapak dan Ibu sekalian, sidang ini bertujuan menyatukan suara. Namun, dengan laporan rukyat yang bervariasi dan hasil hisab yang sudah fix di satu pihak, saya meminta waktu 30 menit lagi untuk memverifikasi ulang laporan di wilayah Barat. Kita belum bisa mengetuk palu sekarang. Saya harap kita semua tenang dan sabar menunggu keputusan terbaik."
(Suasana bising, perdebatan berlanjut di kursi belakang antara anggota tim NU dan Muhammadiyah)
Perwakilan Muhammadiyah (Kembali bicara):
"Jika ditunda terlalu lama, ini akan menimbulkan kepanikan umat. Data hisab sudah akurat!"
Perwakilan NU (Membalas):
"Ketepatan adalah hal utama. Jangan terburu-buru, ini ibadah!"
Ketua Sidang:
"Mohon tenang. Bismillah, kita rehat sejenak, tim teknis silakan verifikasi ulang. Sidang isbat ditunda sementara, belum diputuskan 1 Syawal 1447 H."
Editor : Hariri HJ