Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Menyingkap Abad Kekosongan: One Piece dan Bayang-Bayang Orde Baru, Opini: Hidayat Norwahit, Mahasiswa UIN KHAS JEMBER

Dwi Siswanto • Jumat, 15 Agustus 2025 | 22:10 WIB

 

Hidayat Nor Wahit
Hidayat Nor Wahit

DALAM dunia fiksi One Piece, Abad Kekosongan (Void Century) adalah periode seratus tahun yang dihapus dari catatan sejarah resmi oleh Pemerintah Dunia. Tidak ada catatan tertulis yang tersisa, dan upaya untuk mempelajari periode tersebut dianggap sebagai kejahatan besar.

Dalam narasi ini, hilangnya pengetahuan sejarah bukan hanya akibat lupa, tetapi merupakan hasil dari upaya konkrit penguasa untuk mengendalikan ingatan kolektif masyarakat.

Analogi ini memiliki kemiripan dengan praktik penghapusan dan pengendalian informasi yang terjadi pada masa Orde Baru di Indonesia. Pemerintah pada masa itu melakukan pembatasan narasi sejarah, terutama terkait peristiwa 1965 dan pergolakan politik yang menyertainya.

Kebijakan Orde Baru dalam membentuk narasi tunggal sejarah, khususnya melalui pendidikan formal, media massa, dan sensor budaya, menciptakan versi sejarah resmi yang minim ruang bagi kritik atau perspektif alternatif.

Akibatnya, generasi muda tumbuh dengan pengetahuan sejarah yang tidak utuh, sementara berbagai catatan dan suara kritis termasuk dari para intelektual, aktivis, dan seniman dihilangkan atau dibungkam.

Fenomena ini mencerminkan Voit Century versi dunia nyata, di mana akses terhadap kebenaran dibatasi demi mempertahankan legitimasi kekuasaan.

Dalam One Piece, banyak pihak yang mencoba mengungkap kebenaran Abad Kekosongan justru menjadi korban represi.

Para arkeolog dari Ohara, misalnya, dibasmi demi menghentikan penyebaran informasi sejarah yang dilarang.

Praktik tersebut tidak hanya menghilangkan individu-individu cerdas dari ruang publik, tetapi juga memutus rantai pewarisan gagasan kritis kepada generasi berikutnya.

Seperti Nico Robin menjadi satu-satunya pewaris pengetahuan Ohara, di Indonesia pun hanya segelintir individu dan komunitas yang mampu mempertahankan pengetahuan dan pemikiran alternatif di tengah represi.

Konsekuensinya, masyarakat menjadi semakin sulit membedakan antara kebenaran historis dan narasi kekuasaan.

Kemunculan simbol One Piece di ruang publik Indonesia dapat dilihat sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap praktik pengendalian narasi tersebut.

Generasi muda, yang mungkin tidak mengalami langsung masa Orde Baru, justru menggunakan referensi budaya populer global untuk mengekspresikan keresahan sosial-politik mereka.

Dalam hal ini, bendera Straw Hat Pirates bukan sekadar ikon hiburan, tetapi juga simbol aspirasi kebebasan, keberanian melawan otoritas yang dianggap menindas, dan tekad mencari kebenaran yang hilang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya pop memiliki potensi sebagai bahasa perlawanan yang lebih mudah diakses publik dibandingkan wacana politik formal.

Penggunaan metafora dari One Piece memungkinkan penyampaian pesan kritis dengan cara yang kreatif, aman, dan mampu menjangkau khalayak luas.

Dengan demikian, meski lahir dari dunia fiksi, simbol ini memiliki daya tawar nyata dalam memantik diskusi tentang sejarah, demokrasi, dan hak berekspresi di Indonesia.

Maraknya simbol One Piece di ruang publik Indonesia, khususnya pada momentum bulan kemerdekaan, menunjukkan bahwa budaya populer dapat menjadi media ekspresi yang melampaui batas hiburan.

Kisah Abad Kekosongan dalam One Piece memiliki resonansi kuat dengan sejarah Indonesia pada masa Orde Baru, di mana sebagian narasi sejarah sengaja dihapus atau dikendalikan demi mempertahankan legitimasi kekuasaan.

Dalam kedua konteks tersebut, hilangnya akses terhadap kebenaran historis berdampak pada terputusnya kesinambungan pengetahuan dan melemahkan kemampuan masyarakat untuk melakukan refleksi kritis terhadap masa lalu.

Rezim Orde Baru bukan hanya menghapus atau mengaburkan sebagian catatan sejarah, tetapi juga melakukan pembungkaman terhadap kaum intelektual yang menjadi penjaga nalar kritis bangsa.

Praktik ini sejajar dengan nasib para arkeolog Ohara dalam One Piece yang dimusnahkan demi menutupi rahasia Abad Kekosongan.

Akibatnya, generasi penerus tumbuh dengan pemahaman sejarah yang terbatas, sementara suara-suara alternatif hanya bertahan di lingkaran kecil yang berani mempertahankannya.

Munculnya simbol Straw Hat Pirates di Indonesia dapat ditafsirkan sebagai isyarat generasi muda tengah mencari bahasa baru untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap sistem sosial-politik yang ada.

Baca Juga: Jember, Siapkah Tes Kemampuan Akademik ?, Opini: M. Aminudin

Budaya pop menjadi wadah yang aman sekaligus efektif untuk membangkitkan kesadaran kolektif tentang pentingnya keterbukaan informasi, kebebasan berekspresi, dan pelestarian kebenaran sejarah.

Dengan belajar dari kesalahan masa lalu, baik dari kisah fiksi maupun sejarah nyata, masyarakat Indonesia diharapkan dapat membangun masa depan yang lebih demokratis, terbuka, dan berlandaskan kejujuran historis. Bagaimana pendapat kalian?

*) Penulis adalah mahasiswa UIN KHAS Jember.

 

Editor : Dwi Siswanto
#jember #one piece #UIN KHAS Jember #orde baru #abad kekosongan