Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Menanam Kesadaran Ekologis Santri: Jalan Menuju Indonesia Emas, Opini Oleh: Akhmad Iqbal

Dwi Siswanto • Sabtu, 20 September 2025 | 17:50 WIB

 

Akhmad Iqbal
Akhmad Iqbal

VISI Indonesia Emas 2045 bukan hanya berbicara tentang kekuatan ekonomi dan kemajuan teknologi. Ia bicara tentang masa depan yang berkelanjutan—masa depan yang tak hanya makmur, tapi juga ramah lingkungan. Maka, pertanyaannya: Siapa yang akan memikul tanggung jawab itu? Jawabannya sederhana: generasi muda hari ini.

Namun, sekuat apa pun generasi muda dipersiapkan secara intelektual dan digital, semua itu akan sia-sia jika mereka tumbuh di tengah krisis lingkungan yang terus memburuk.

Kita menyaksikan sendiri, bencana alam seperti banjir bandang, kekeringan, longsor, dan polusi udara terjadi semakin sering dan semakin parah. Ironisnya, di tengah situasi yang genting ini, banyak pejabat publik justru masih abai, seakan perubahan iklim hanya cerita ilmuwan, bukan realitas rakyat.

Di tengah kelesuan itu, justru muncul oase dari lembaga yang selama ini dikenal sebagai penjaga moral masyarakat: pesantren. Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab kuning, melainkan kawah candradimuka karakter dan kesadaran.

Di dalamnya, kiai menjadi figur sentral—seorang pemimpin spiritual, pendidik, sekaligus teladan hidup sederhana.

Di Kabupaten Jember, peran kiai dalam membangun kesadaran ekologis tak bisa diabaikan. Beberapa pesantren bahkan telah bergerak ke arah Eco-Pesantren, yakni pesantren yang tidak hanya mengajarkan agama, tapi juga menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Ini adalah pendekatan cerdas yang sangat relevan di tengah ancaman krisis iklim global.

Kiai sebagai Role Model: Kepemimpinan Spiritual yang Mengakar

Di lingkungan pesantren, kiai bukanlah pemimpin karena jabatan administratif. Ia dihormati karena keteladanan. Kiai yang hidup dalam kesederhanaan, yang zuhud dan rendah hati, memberikan contoh nyata bagaimana hidup selaras dengan alam tanpa berlebihan.

Sikap seperti ini sangat dibutuhkan di era konsumerisme dan eksploitasi alam yang tak terkendali.

Tak hanya di pesantren, banyak masyarakat Jember justru lebih percaya kepada kiai dibandingkan pejabat formal dalam menyelesaikan persoalan sosial. Ini bukti bahwa Kiai memegang otoritas moral yang langka—dan ini bisa menjadi kekuatan besar jika dihubungkan dengan gerakan pelestarian lingkungan.

Baca Juga: Keutamaan Simthutdhuror, Warisan Habib Ali Al Habsyi yang Tetap Hidup

Melalui interaksi sehari-hari, para santri menyerap nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Yang paling penting: mereka menyerap nilai kepedulian terhadap bumi. Inilah yang disebut sebagai moral ecology—ekosistem nilai yang menciptakan kesadaran ekologis sejak dini.

Eco-Pesantren: Islam yang Mencintai Alam

Istilah Eco-Pesantren pertama kali digagas Kementerian Agama RI pada 2008, dan kini mulai dilirik oleh pesantren-pesantren di Jember.

Gagasan ini tak hanya mengintegrasikan ajaran Islam soal kebersihan dan pelestarian, tapi juga mengajak santri untuk mengamalkan langsung nilai-nilai itu.

Konsepnya sederhana namun mengena: pesantren mengelola sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle), menggunakan energi alternatif seperti biogas dan panel surya, menanam tanaman obat keluarga, dan mengelola air hujan.

Dalam buku Etika Islam dalam Menjaga Lingkungan Hidup (2025) disebutkan bahwa prinsip-prinsip Islam seperti thaharah (kebersihan), khalifah fil ardh (manusia sebagai penjaga bumi), dan israf (larangan berlebih-lebihan) adalah fondasi etik bagi gerakan ini.

Dengan model seperti ini, para santri tak hanya belajar menghafal ayat, tapi juga menanam pohon sebagai bentuk ibadah.

Mereka belajar fikih bersuci sekaligus mengelola limbah agar tidak mencemari lingkungan. Bahkan mencintai alam dianggap bagian dari mencintai ciptaan Allah.

Dukungan Pemkab Jember: Komitmen Lokal untuk Isu Global

Pada momentum World Ozone Day 16 September 2025, Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menunjukkan komitmennya terhadap isu lingkungan.

Lewat kampanye bertajuk "Tanpa Ozon, Bumi Tak Akan Sama", DLH mengajak seluruh warga Jember untuk memulai perubahan dari langkah kecil: mengurangi plastik, menghemat energi, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Bupati Jember, Gus Fawait, yang dikenal dekat dengan komunitas pesantren, bahkan memberikan ucapan resmi dan memasang baliho di berbagai titik strategis Jember.

Ini bukan hanya bentuk dukungan simbolik, tapi juga ajakan terbuka agar seluruh elemen—termasuk pesantren—menjadi pelopor perubahan.

Langkah Pemkab ini patut diapresiasi dan dilanjutkan dengan kebijakan yang lebih konkret. Misalnya: insentif bagi pesantren yang menerapkan Eco-Pesantren, pelatihan pengelolaan sampah berbasis pesantren, atau kolaborasi kurikulum antara Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama.

Menuju Generasi Emas yang Ramah Lingkungan

Mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan pembangunan ekonomi dan infrastruktur. Kita butuh generasi yang utuh—cerdas, berakhlak, dan punya kesadaran ekologis tinggi.

Model pendidikan seperti Eco-Pesantren inilah yang bisa mencetak anak muda yang bukan hanya cerdas secara otak, tapi juga bijak terhadap alam.

Di masa depan, para santri ini bisa menjadi birokrat yang antikorupsi dan ramah lingkungan, pengusaha hijau yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular, atau bahkan dai yang berdakwah soal perubahan iklim.

Indonesia membutuhkan change makers semacam ini—dan Jember, dengan kekuatan pesantrennya, bisa menjadi pelopor.

Penutup: Dari Langit ke Bumi, dari Kiai ke Aksi

Saat kita memperingati Hari Ozon Sedunia tahun ini, mari kita tanamkan satu hal penting: menjaga bumi adalah ibadah. Dan pesantren bisa menjadi ladang subur tempat nilai-nilai itu tumbuh.

Dengan kolaborasi antara kiai, santri, dan pemerintah daerah, bukan mustahil Jember menjadi kabupaten pelopor Eco-Pesantren di Jawa Timur, bahkan Indonesia. Sebab, masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda—dan masa depan generasi muda ada pada bumi yang lestari.

 *) Penulis adalah Pengajar Filsafat Pendidikan Islam dan Sek. LP2M Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah (UNIKHAMS) Jember.

Editor : Dwi Siswanto
#indonesia emas #santri #Kekuatan Ekonomi #masa depan