BAYANGKAN kalau setiap siswa di sekolah harus membaca buku dan menulis resensinya. Ini bukan mimpi lagi. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia Prof Dr Abdul Mu'ti MEd. sedang merencanakan kebijakan untuk mewajibkan hal itu. Ide tersebut muncul karena melihat rendahnya minat baca di kalangan anak muda kita.
Menurut data, rata-rata orang Indonesia hanya membaca kurang dari 10 buku per tahun. Padahal, membaca buku itu bukan cuma hobi, melainkan juga kunci untuk membuka pintu pengetahuan dan kreativitas.
Oleh karena itu, lewat Kolom ini, saya akan membahas kenapa budaya membaca dan menulis resensi buku itu sangat penting buat siswa sekolah, serta manfaatnya, tantangannya, dan bagaimana kebijakan ini bisa menjadi game-changer untuk pendidikan kita.
Pertama-tama, mari kita pahami apa itu budaya membaca buku. Budaya membaca buku artinya kebiasaan sehari-hari di mana orang-orang, termasuk siswa, suka menghabiskan waktu dengan buku. Bukan cuma buku pelajaran, melainkan juga novel, cerita pendek, biografi, atau bahkan komik edukatif.
Di sekolah, siswa seringkali hanya membaca buku untuk ujian. Namun, kalau diwajibkan, ini bisa menjadi rutinitas yang menyenangkan. Bayangkan siswa SD membaca buku cerita petualangan seperti "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata, atau siswa SMP menyelami buku dunia fantasi ala "Harry Potter". Membaca buku seperti ini bisa membikin imajinasi meledak, kosakata bertambah banyak, dan pemahaman akan dunia menjadi lebih luas.
Nah, kenapa membaca buku harus ditambah dengan menulis resensinya? Resensi buku itu seperti review film di YouTube, tapi untuk buku. Siswa sekolah harus menulis pendapatnya: Apa yang ia suka, apa yang tidak, alur ceritanya bagaimana, dan pelajaran apa yang ia dapat. Ini bukan tugas berat. Mulai dari menulis resensi buku sepanjang 200-300 kata saja sudah cukup.
Manfaat menulis resensi buku? Pertama, melatih kemampuan berpikir kritis. Siswa sekolah tidak cuma membaca secara pasif, tapi juga secara analisis: "Kenapa tokoh utamanya begini? Apa pesan moralnya?"
Kedua, meningkatkan keterampilan menulis. Pada era digital, banyak anak yang lebih suka mengetik status di sosial media daripada menulis paragraf yang panjang. Dengan menulis resensi buku, mereka belajar untuk menyusun kalimat yang rapi, memakai bahasa yang baik, dan mengekspresikan ide dengan jelas.
Budaya membaca dan menulis resensi buku juga bisa membangun rasa percaya diri. Bayangkan kalau ada siswa yang resensi bukunya dipajang di papan sekolah atau di-upload ke blog kelas. Siswa yang biasanya pemalu bisa bangga karena tulisannya dibaca orang lain.
Di Jepang atau Finlandia, negara dengan tingkat literasi tinggi, siswa sekolah diajari membaca dan me-review buku sejak dini. Hasilnya? Mereka menjadi pemikir yang inovatif. Di Indonesia, kalau diwajibkan, ini bisa mengurangi masalah seperti hoax di media sosial. Siswa yang terbiasa membaca dan menganalisis buku bakal lebih pintar membedakan fakta dan opini.
Selain itu, jangan lupakan juga manfaat jangka panjangnya, Ferguso. Membaca buku itu bikin otak menjadi lebih tajam. Penelitian bilang, orang yang rajin membaca buku punya memori yang lebih baik dan risiko demensia yang lebih rendah pada usia tua. Buat siswa, ini berarti nilai sekolahnya berpotensi bakal naik, terutama untuk mata pelajaran bahasa dan sosial.
Selain membaca, menulis resensi buku juga melatih empati. Saat membaca buku tentang perjuangan anak miskin di desa, siswa yang sekolah di kota bisa memahami perspektif yang lain. Ini penting di Indonesia yang beragam suku dan budayanya. Kebijakan Mendikdasmen ini bisa menjadi alat untuk membangun karakter bangsa: Siswa sekolah yang cerdas, kritis, dan peduli.
Namun, meski demikian, tentu saja, ada tantangannya, kisanak. Banyak siswa yang bilang, "Buku mahal!" atau "Nggak ada waktu karena les dan tugas." Sekolah di daerah pedesaan mungkin juga banyak yang kekurangan perpustakaan.
Solusinya? Pemerintah bisa memberikan subsidi buku digital atau e-library gratis via aplikasi. Guru bisa membikin klub membaca buku mingguan, di mana para siswa mendiskusikan resensi buku yang mereka tulis sambil makan camilan. Orang tua juga harus dilibatkan, misalnya dengan workshop "Membaca Bareng Keluarga".
Yang penting, jangan memaksa siswa sekolah untuk membaca buku yang tebal-tebal dulu; mulai dari yang ringan-ringan, seperti komik atau cerita pendek. Kalau diwajibkan tanpa persiapan, bisa-bisa siswa malah stres. Namun, kalau dilakukan secara bertahap, ini bisa menjadi budaya yang positif.
Lihat contoh sukses di Indonesia sendiri. Program "Gerakan Literasi Sekolah" (GLS) sejatinya sudah ada sejak 2015, tapi kurang maksimal karena tidak diwajibkan. Dengan kebijakan baru ini, program tersebut bisa dilaksanakan dengan lebih tegas.
Bayangkan ada siswa SMA yang menulis resensi buku tentang sejarah Indonesia, seperti "Max Havelaar" karya Multatuli. Mereka tidak cuma menghafal tanggal-tanggalnya, tapi juga memahami konteks kolonialisme dalam bukunya.
Ini membikin pelajaran sejarah menjadi hidup! Pada era AI (artificial intelligence) seperti sekarang, membaca dan menulis resensi buku juga melatih skill yang robot belum bisa menggantikan: Kreativitas dan emosi manusiawi.
Akhirnya, kebijakan wajib membaca dan menulis resensi buku ini bisa menjadi tonggak baru pendidikan di Indonesia. Siswa sekolah tidak lagi menjadi "robot belajar" yang cuma menghafalkan rumus, tapi juga menjadi pemikir muda yang siap menghadapi dunia.
Budaya membaca dan menulis resensi buku itu bukan beban, melainkan petualangan. Kalau Mendikdasmen benar-benar mewajibkan hal ini, mari kita dukung.
Kita bisa mulai dari diri sendiri dulu: Ambil buku favorit hari ini, baca, dan tulis resensinya. Siapa tahu, esok hari anak-anak kita menjadi generasi emas yang literat dan inovatif. Mari kita membaca dan menulis resensi buku untuk masa depan yang lebih cerah!
*) Penulis adalah pengulas buku, content writer, dan blogger asal Jember.
Editor : Sidkin