Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

INOVASI DAN DIGITAISASI MANAJEMEN  PENDIDIKAN ISLAM DIERA DIGITAl  DAN ERA SOCIETY 5.0, Opini: Dr. Hamdanah

Dwi Siswanto • Kamis, 25 Desember 2025 | 20:32 WIB

 

 

Penulis adalah Dr. Hj Hamdanah, M.Hum  Dosen Universitas Islam Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren SHOFA MARWA Jember
Penulis adalah Dr. Hj Hamdanah, M.Hum Dosen Universitas Islam Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren SHOFA MARWA Jember

Perkembangan teknologi digital dan penerapan konsep Society 5.0 dimana suatu masyarakat yang mengkombinasikan dunia nyata dan dunia maya untuk memenuhi kebutuhan manusia, memberikan peluang dan tantangan signifikan untuk bidang pendidikan secara umum, dan pendidikan Islam secara khusus. Dalam era ini, institusi pendidikan Islam dituntut untuk mengubah tujuan, metode, dan manajemen pembelajaran sehingga lulusan tidak hanya paham agama, tetapi juga memiliki kemampuan digital, berpikir kritis, serta bertanggung jawab secara sosial. Pengintegrasian teknologi dalam pendidikan perlu dilakukan dengan cermat dan bermakna agar dapat mendukung pembentukan individu yang berpengetahuan, berakhlak baik, serta mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Dalam hal ini, lembaga Pendidikan Islam, yang secara bawaan bertujuan untuk melahirkan individu yang berakhlak baik serta memiliki kemampuan yang memadai di dunia, berhadapan dengan tantangan sekaligus peluang yang ganda. Perubahan tidak lagi hanya berkaitan dengan metode pengajaran, tetapi juga menyentuh pada pengelolaan institusi secara keseluruhan.

Digitalisasi memperluas akses terhadap pendidikan, karena materi pembelajaran bisa diakses kapan dan di mana saja, memungkinkan pembelajaran yang lebih personal, diferensial, serta memanfaatkan sumber ilmu pengetahuan secara global. Dalam konteks Pendidikan Islam, ini membuka peluang dalam pengembangan modul PAI (Pendidikan Agama Islam) yang interaktif seperti video tafsir kontekstual, podcast kajian akhlak, serta platform latihan tajwid/tilawah berbasis AI yang memperkaya pencarian belajar di luar model ceramah tradisional.

Urgensi transformasi digital dalam Pendidikan Islam didorong oleh dua faktor utama, yaitu tuntutan zaman dan relevansi nilai. Lembaga Pendidikan Islam sering menghadapi kendala infrastruktur serta kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Menurut Munir & Su'ada (2024), manajemen pendidikan Islam di era digital memerlukan transformasi mendasar dalam pengelolaan sumber daya, kurikulum, dan proses pembelajaran agar tidak tertinggal dari perkembangan zaman. Penjelasan tersebut menekankan bahwa adopsi teknologi bukan hanya pilihan, melainkan keharusan dalam manajemen. Tantangan utamanya bukan hanya dalam pengadaan perangkat, tetapi bagaimana memastikan teknologi terintegrasi secara efektif tanpa mengurangi nilai-nilai spiritual yang menjadi dasar Pendidikan Islam.Berbagai kesempatan yang terbuka akibat digitalisasi membawa tantangan besar. Pertama, keterampilan digital bagi pengajar dan murid menjadi sebuah keharusan, tanpa kemampuan untuk menganalisis informasi, mengoperasikan platform pembelajaran, dan menggunakan media digital secara pendidikan, teknologi hanya akan berfungsi sebagai alat presentasi, bukan sebagai pengubah pendidikan.

Pesantren dan madrasah sebagai fondasi pendidikan Islam tradisional menghadapi dilema strategis: mempertahankan inti tradisi belajar agama (talaqqi, halaqah, sanad) sambil mengintegrasikan inovasi digital yang relevan. Beberapa inisiatif yang sukses meliputi digitalisasi turots. kitab-kitab klasik dengan penjelasan interaktif, platform pembelajaran online untuk santri atau murid yang tidak dapat hadir, serta program pelatihan guru agama dalam metode pengajaran digital.

Untuk memenuhi tuntutan Society 5. 0, kurikulum pendidikan Islam perlu menyatukan tiga fokus utama yaitu:

1.Kompetensi religius (pemahaman Al-Qur’an, hadis, moralitas),

Untuk menjawab kebutuhan Society 5.0 di mana teknologi mutakhir seperti AI dan IoT menyatu dengan kehidupan sehari-hari, pendidikan Islam perlu menjadikan Kompetensi Religius sebagai dasar spiritual dan intelektual.

berpengaruh besar terhadap sosial, ekonomi, dan spiritual. Oleh karena itu, siswa harus diajak untuk menganalisa dilema etika terkait AI, seperti bagaimana algoritma dapat menciptakan bias atau bagaimana otonomi AI dapat memengaruhi Ini mencakup kemampuan mengenali manipulasi media, memahami mekanisme filter bubble dan echo chamber, serta merespons ujaran kebencian (hate speech) dan provokasi dengan sikap yang konstruktif. Dengan memperkuat kemampuan media literasi, pendidikan Islam menghasilkan individu yang tidak mudah terprovokasi, namun mampu berpartisipasi dalam diskursus digital secara bijaksana (hikmah) dan rasional.

 

Penulis adalah Dr. Hj Hamdanah, M.Hum

Dosen Universitas Islam Jember dan Pengasuh Pondok Pesantren SHOFA MARWA Jember

 

Editor : Dwi Siswanto
#jember #islam #pendidikan islam