Suara Ibu
Ibu telah melahirkan namamu
Berbangsa pertiwi, Indonesia
Ibu telah mengasihi masa kanakmu
Dengan udara, tanah, air pusaka
Ibu telah membesarkan jiwamu
Dengan sejarah juang,
berpuluh-puluh tahun, untuk merdeka
Ibu telah jaga nadimu berdenyut,
Darahmu mengalir,
Dalam tubuh Nusantara.
Ibu telah jaga suaramu
Melenting menyanyikan lagu Tanah Air Beta
Ibu telah panggil namamu, dengan bangga
sebagai generasi penerus bangsa
Ibu telah banyak berdoa,
Atas keselamatan jiwa, akal
Dan hatimu yang paling utama
Ibu tidak pernah mengharapkan apa-apa.
Ibu hanya ingin diasuh di usia renta,
Dengan kejujuran yang sederhana
Tanpa kelit dan tipu daya
Dengan usaha yang penuh cinta
Tanpa saling serang dan adu domba
Tolong, dengarkan suara ibu
yang menjerit melolong dari tanah Papua
dari hutan-hutan di Sumatera,
dari konflik agraria di Maluku Utara,
Dengarkan suara ibu ini, walau
Kau sedang, berada di istana
Dengarkan suara ibu ini, walau
Kau sedang, dalam kemegahan kuasa
Dengarkan suara ibu ini, walau
Kau sedang menyandang bintang,
berpangkat lima.
Dengarkan suara ibu ini, walau
kau sedang menyelesaikan proyek sawit,
yang tak ada tandingannya.
Dengarkan suara ibu ini, walau
Kau suka bermain-main di luar sana
Dengarkan suara ibu ini,
Menjerit lelah
Mengharap pasrah,
Atas tangan dan hati mu yang tak lagi derma
Ibu telah berjuang sendiri
Sedangkan kau, hanya injak kaki
Tanpa tau rasa,
Bagaimana harusnya berbakti.
Tanpa tau iba,
Pada kemanusiaan, yang
Dikunyah diemban oleh mulut sendiri.
Surabaya, 18 Mei 2026
Karya Zuhrotul Maryam, pengajar dan peneliti kajian sosial keagamaan yang kesehariannya dirayakan dengan termenung dan menulis puisi
Editor : Yulio Faruq Akhmadi