Kesucian Jiwa
Kematian ego bukan semata kematian jasad
yang berhenti bernapas.
Itulah kematian yang menjadi pembuka jalan
bagi kehidupan yang lebih jernih dan sejati.
Sesuatu yang harus dilepaskan dengan ikhlas
sebelum jasad berhenti bergerak.
Kematian ego adalah kematian perasaan “aku”
yang selalu ingin menang sendiri,
selalu ingin berkuasa, dan selalu ingin dipuji.
Ketika melihat orang sukses,
maka datanglah rasa iri dan dengki,
hingga muncullah ego-ego yang terluka dan tersakiti.
Di akhir zaman ini, banyak orang hidup
dengan tubuh sehat, tetapi batinnya merasa lelah.
Bukan karena dunia terlalu berat,
melainkan karena egonya terus meminta pengakuan.
Karena itu, matikanlah ego-egomu,
keakuan dan kesombonganmu.
Matikanlah keterikatan dan kemelekatan berlebihan
terhadap topeng-topeng kepalsuanmu.
Tampillah jujur dan apa adanya,
demi untuk mematikan ego dan menjernihkan tauhid.
Sebab, Allah menegaskan dalam Al-Quran (Syams: 9),
“Beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya.” (*)
Oleh Mu’min Roup, Dosen dan peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis esai dan prosa di berbagai media
Editor : Yulio Faruq Akhmadi