Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Fakta Dibalik Batuan Zaman Klasik Situs Umpak Sewu di Hyang Argopuro

Halo Jember • Minggu, 24 November 2024 | 22:00 WIB
BATUAN: DI kawasan lereng pegunungan Hyang Argopuro Dusun Gentong Desa Kemiri Kecamatan Panti banyak batu klasik. (YULIO FA/RADAR JEMBER)
BATUAN: DI kawasan lereng pegunungan Hyang Argopuro Dusun Gentong Desa Kemiri Kecamatan Panti banyak batu klasik. (YULIO FA/RADAR JEMBER)

HALOJEMBER - Penelusuran sejarah di Jember sangat mungkin ditelisik melalui benda-benda peninggalannya. Sekitar 20 kilometer dari Alun-alun Jember, sebaran batuan di kawasan lereng pegunungan Hyang Argopuro Dusun Gentong Desa Kemiri Kecamatan Panti yang diduga kuat adalah peninggalan pada masa klasik. Antara 8 Sebelum Masehi hingga 6 Masehi.

Adalah penemuan terbaru oleh seorang pegiat budaya dan sejarah di Jember, Imam Jazuli pada 29 September lalu. Atas petunjuk seorang pencari rumput di daerah setempat.

Lokasi utama ditemukannya sebaran batuan interlock seperti pengunci struktur candi itu kini dinamakan Situs Sewu Umpak. Sebuah umpak dengan motif ukiran diselamatkan.

Dugaan Imam ditunjang dari berbagai referensi kitab-kitab kuno seperti Kedewaguruan, Raja Pati Gundala, dan Tatu Panggelaran hingga prasasti Humanding, Jaringan, dan Batur.

Nama gunung Hyang Argopuro disebut di dalamnya. Adanya Kedewaguruan di daerah Tapal Kuda yang juga terdapat Mandala atau suatu tempat yang melangsungkan kegiatan pendidikan.

“Sehingga kuat dugaan itu Mandala Kedewaguruan, cirinya persis, di gunung, sepi, dan jauh dari keramaian,” terang Staf Kebudayaan Juru Pelihara Cagar Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember.

Kawasan Situs Sewu Umpak berada di lahan milik PDP Kahyangan, di bawah pepohonan kopi hingga karet. Juga ditemukan sebuah inskripsi atau prasasti batu sodong dengan ukiran timbul memakai aksara kawi kuadrat pada 6 Oktober.

Menggunakan aplikasi khusus, lafal tulisan itu diduga “Masaba”. Saba, kata dia, sama dengan pasebo atau paseban yang berarti tempat pertemuan. Yang apabila ditelusuri jenis aksaranya baru tersebut satu masa dengan adanya prasasti yang ada di Congapan, Sumberbaru.

Pria yang tergabung dalam Komunitas Bhatara Sapta Prabu itu menjelaskan, ukiran tak sederhana yang ada pada batu umpak dan aksara yang tertulis pada batu sodong menjadi bukti kuat dugaan peninggalan zaman klasik. Menandakan, peradaban pada masa itu sudah tinggi.

“Sebaran batuannya banyak, mungkin seribu lebih kalau kita telusuri sampai ke timur ke arah Kalijompo Sukorambi,” sebutnya.

Kawasan tersebut, kata dia, dulunya adalah sebuah tempat berlangsungnya sistem pendidikan. Mulai dari Kedewaguruan hingga resi-resi sebagai gurunya.

Masa itu bersamaan dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu Budha, sehingga sistem kasta berlaku. Masyarakat mendapatkan tempat dan pendidikan sesuai dengan status sosialnya.

Nama Situs Sewu Umpak adalah kesepakatan bersama dan bisa berubah apabila ada regulasi yang mengatur. Saking banyaknya batuan itu sehingga dikatakan sewu atau seribu.

Batuan itu tersebar di atas permukaan tanah dan masih banyak lagi yang masih setengah terkubur dan benar-benar masih terpendam.

Masyarakat Jember bisa mengunjunginya. Masuk ke kawasan perkebunan PDP Kahyangan lantas naik melintasi pabrik karet sampai melewati jalanan berbatu yang masih makadam.

Sebelum itu, di bawah pepohonan karet juga terdapat batu lumpang dengan cekungan bulat yang pada zaman dulu digunakan untuk menumbuk. Juga talut-talut serta struktur bangunan yang terpendam di bawah tanah.

Masuk ke situs tersebut kiranya pengunjung cukup membayar tiket memasuki kawasan perkebunan. Terdapat mitos yang berkembang di masyarakat setempat.

Konon, apabila ada yang membawa batu dari area situs dan sekitarnya, dia tidak bisa buang air kecil hingga batu tersebut dikembalikan ke tempat semula.

Tapi, informasi awal itu bisa digali lebih jauh sampai mendekati kebanaran. Anak-anak muda pun tak perlu ragu untuk mengunjunginya sebagai sebuah upaya menengok dan mempelajari serpihan sejarah asal usul Jember. Sebagai penghibur, pepohonan nan hijau membuat udara di sana terasa sejuk. (sil/nur)

Editor : Halo Jember
#sejarah #jember