
Kota Tanpa Langit
Di kota ini,
langit pernah tinggal di atas kepala,
sebelum gedung-gedung tumbuh dengan gagah
Pagi pun datang berwajah abu-abu
Matahari tertahan di balik asap,
sementara ribuan roda mengunyah jalan
dan muntah keruh ke udara.
Pohon-pohon masih berdiri,
Namun akar mereka tercekik beton.
Daunnya menghafal debu,
burung-burung kehilangan alamat,
dan angin datang tanpa menemukan celah untuk bernapas.
Sungai mengalir keruh,
membawa sisa-sisa kesibukan kota.
Tanah tak lagi dipijak sebagai rumah,
karena beton tumbuh di mana-mana
Malam tiba…
Bintang-bintang tak terlihat
bukan karena pergi, tetapi..
cahaya kota sibuk mengusir gelap dari langit.
Kota ini tetap hidup:
mesin menyala, gedung tumbuh,
Hanya satu yang perlahan mati:
Hubungan manusia dengan alam.
Dan ketika nanti anak-anak bertanya
seperti apa rupa langit,
kita hanya mampu menunjukkan
sebuah foto lama:
biru,
luas,
dan penuh cahaya.
Lalu berkata…
“Dahulu,
kita hidup di bawahnya.”
Karya Syariful Hidayat, Alumnus Sastra Unej, Pendidik di SMK IBU Pakusari Jember dan Ketua LESBUMI di MWCNU Sumbersari, Jember.




