Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kota Tanpa Langit, Puisi Karya Syariful Hidayat

Sidkin
Penulis: Sidkin❯
Ilustrasi puisi. (Ijal/AI/Halojember)
Ilustrasi puisi. (Ijal/AI/Halojember)

Advertisement

 

Kota Tanpa Langit

 

Advertisement

Di kota ini,
langit pernah tinggal di atas kepala,
sebelum gedung-gedung tumbuh dengan gagah
Pagi pun datang berwajah abu-abu
Matahari tertahan di balik asap,
sementara ribuan roda mengunyah jalan
dan muntah keruh ke udara.

Pohon-pohon masih berdiri,
Namun akar mereka tercekik beton.
Daunnya menghafal debu,
burung-burung kehilangan alamat,
dan angin datang tanpa menemukan celah untuk bernapas.

Sungai mengalir keruh,
membawa sisa-sisa kesibukan kota.
Tanah tak lagi dipijak sebagai rumah,
karena beton tumbuh di mana-mana

Advertisement

Malam tiba…
Bintang-bintang tak terlihat 
bukan karena pergi, tetapi..
cahaya kota sibuk mengusir gelap dari langit.
Kota ini tetap hidup:
mesin menyala, gedung tumbuh,
Hanya satu yang perlahan mati:
Hubungan manusia dengan alam.
Dan ketika nanti anak-anak bertanya
seperti apa rupa langit,
kita hanya mampu menunjukkan
sebuah foto lama:
biru,
luas,
dan penuh cahaya.
Lalu berkata…
“Dahulu,
kita hidup di bawahnya.”

 

Karya Syariful Hidayat, Alumnus Sastra Unej, Pendidik di SMK IBU Pakusari Jember dan Ketua LESBUMI di MWCNU Sumbersari, Jember.

Advertisement

Artikel Terkait

Sebelum Akar Rimba Menjemput Mati, Puisi Karya Lafif Muhammad Al Muwaffaq

Sebelum Akar Rimba Menjemput Mati, Puisi Karya Lafif Muhammad Al Muwaffaq

Jerit bisu rimba membentur dinding renta Menatap nganga luka di tengah belantara bara tanpa ada yang peduli Akar bergelut menahan nyeri Pasrah menanti takdir: mati

Pengemis Berjubah Taqwa, Puisi Karya Frenki Adi

Pengemis Berjubah Taqwa, Puisi Karya Frenki Adi

Kehidupan dan takdir berada di tangan Tuhan, demikian petuah yang kerap kita dengar dari kalam-kalam orang bijak. Begitulah kehidupan, ketika seorang lelaki tua berjalan di ujung gang, dengan pakaian

Nasehat Mulyono, Puisi Karya Hafis Azhari

Nasehat Mulyono, Puisi Karya Hafis Azhari

Nasehat Mulyono Wahai Anakku, sesungguhnya bangsa ini tak ubahnya masyarakat Jahiliyah di era Muhammad, yang masih sibuk menyembah berhala-berhala dalam bentuk benda pusaka dan dewa-dewi leluhur

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer