Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sebelum Menjadi Asap, Puisi Karya Muhammad Taofik

Sidkin
Penulis: Sidkin❯
Ilustrasi puisi. (Sidkin/AI/Halojember)
Ilustrasi puisi. (Sidkin/AI/Halojember)

Advertisement

 

Sebelum Menjadi Asap

Daun-daun itu digantung matahari.
Pelan-pelan hijau meninggalkan tubuhnya,
menjadi warna yang lebih tua, lebih ringan,
lebih dekat dengan debu.

Advertisement

Tak ada yang menyebut proses itu sebagai kematian.
Orang-orang menyebutnya pengeringan.
Di meja linting, sehelai daun dipertemukan dengan api.
Ia terbakar agar sesuatu yang lain bisa menyala.

Hidup memang sering begitu.
Kita baru dianggap berguna 
setelah sebagian diri habis menjadi milik orang lain.

 

Advertisement

Karya Muhammad Taofik, Mahasiswa Sejarah UIN KHAS Jember asal Probolinggo.

Advertisement

Artikel Terkait

Kota Tanpa Langit, Puisi Karya Syariful Hidayat

Kota Tanpa Langit, Puisi Karya Syariful Hidayat

Di kota ini, langit pernah tinggal di atas kepala, sebelum gedung-gedung tumbuh dengan gagah. Pagi pun datang berwajah abu-abu. Matahari tertahan di balik asap, sementara ribuan roda mengunyah jalan.

Sebelum Akar Rimba Menjemput Mati, Puisi Karya Lafif Muhammad Al Muwaffaq

Sebelum Akar Rimba Menjemput Mati, Puisi Karya Lafif Muhammad Al Muwaffaq

Jerit bisu rimba membentur dinding renta Menatap nganga luka di tengah belantara bara tanpa ada yang peduli Akar bergelut menahan nyeri Pasrah menanti takdir: mati

Pengemis Berjubah Taqwa, Puisi Karya Frenki Adi

Pengemis Berjubah Taqwa, Puisi Karya Frenki Adi

Kehidupan dan takdir berada di tangan Tuhan, demikian petuah yang kerap kita dengar dari kalam-kalam orang bijak. Begitulah kehidupan, ketika seorang lelaki tua berjalan di ujung gang, dengan pakaian

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer