Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Yang Tumbuh di Bawah Musim, Puisi Karya Muhammad Taofik

Sidkin
Penulis: Sidkin❯
Ilustrasi puisi. (Ijal/AI/Halojember)
Ilustrasi puisi. (Ijal/AI/Halojember)

Advertisement

 

Yang Tumbuh di Bawah Musim

Hujan datang tanpa membawa kabar, 
sawah menadah langit, akar-akar membuka percakapan lama dengan lumpur 
Di kejauhan seorang petani menunduk, 
entah memeriksa tanah atau menghitung berapa banyak harapan yang masih bisa ditanam 
Pagi belum selesai menyalakan cahaya, tetapi tangannya sudah lebih dulu akrab dengan kerja 
Musim berganti tanpa pernah meminta izin, 
sementara tubuh-tubuh yang sama terus menanam sesuatu yang belum tentu mereka tuai
Mungkin tanah memang menyimpan rahasia paling tua
Semua yang ditanam ditakdirkan kembali kepada penanamnya

Advertisement

 

Karya: Muhammad Taofik, Mahasiswa Sejarah UIN KHAS Jember asal Probolinggo.

Advertisement

Artikel Terkait

Peluh di Bawah Langit Senja, Puisi Karya Frenki Adi

Peluh di Bawah Langit Senja, Puisi Karya Frenki Adi

Peluh di Bawah Langit Senja Mentari mulai redup pertanda hari perlahan berganti Saat diriku masih menata barang-barang di meja Hendak pulang dari tempat aku bekerja

Nyanyian Hujan, Puisi Karya Syariful Hidayat

Nyanyian Hujan, Puisi Karya Syariful Hidayat

Tik..tik..tik.. Nyanyian hujan rintik Tik..tik..tik.. Gerimis menari atap berisik Kadang tak pernah serius turun Namun, bahagia karena dinginnya Kadang cuma lewat, tapi menghapus kerinduan yang lama

Tanah Haram, Puisi Karya Frenki Adi

Tanah Haram, Puisi Karya Frenki Adi

Fajar menyingsing di langit Tanah Haram. Ribuan manusia datang membawa masa lalu, menumpahkan penyesalan di hadapan Tuhan yang tak pernah menutup pintu ampunan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer