Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tanah Haram, Puisi Karya Frenki Adi

Sidkin
Penulis: Sidkin❯
Ilustrasi puisi. (Ijal/AI/Halojember)
Ilustrasi puisi. (Ijal/AI/Halojember)

Advertisement

 

Tanah Haram

Fajar menyingsing di langit Tanah Haram.
Ribuan manusia datang membawa masa lalu,
menumpahkan penyesalan di hadapan Tuhan
yang tak pernah menutup pintu ampunan.
Di sini, sujud bukan tentang siapa yang paling terlihat suci,
melainkan tentang hati yang lelah menyembunyikan dosa.
Dahi menyentuh bumi,
sementara jiwa berusaha pulang
dari kesesatan yang lama dipeluknya.
Tanah Haram,
tempat manusia berharap menemukan pengampunan.
Namun, perjalanan sesungguhnya
bukan sekadar sampai ke tanah suci,
melainkan pulang dengan hati yang berbeda.

Advertisement

 

Karya: Frenki Adi, Mahasiswa Prodi Ilmu Alquran dan Tafsir UINKHAS Jember asal Sumenep Madura.

Advertisement

Artikel Terkait

Pena di Sisi Tidur, Puisi Karya Muhammad Taofik

Pena di Sisi Tidur, Puisi Karya Muhammad Taofik

Pena di Sisi Tidur. Malam menyisakan satu halaman yang belum juga selesai. Pena tergeletak di samping kepala, seperti seseorang yang lupa pulang. Aku tidur sebentar, sementara beberapa kata masih

Yogya Malam Hari, Puisi Karya Novia Ulfa Isnaini

Yogya Malam Hari, Puisi Karya Novia Ulfa Isnaini

Yogya malam hari adalah langit yang terbuka dengan gemerlap bintang yang tertahan di dalamnya Lampu bersinar kekuning-kuningan, bilik mungil namun sejuta nektar, bak madu yang dihisap kupu kupu.

Sebelum Menjadi Asap, Puisi Karya Muhammad Taofik

Sebelum Menjadi Asap, Puisi Karya Muhammad Taofik

Tak ada yang menyebut proses itu sebagai kematian. Orang-orang menyebutnya pengeringan. Di meja linting, sehelai daun dipertemukan dengan api. Ia terbakar agar sesuatu yang lain bisa menyala.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer