
Di bawah bentangan langit yang tak bertepi,
Netraku menelusuri wajah kehidupan.
Di tanah Jember, untuk pertama kalinya
jejak kakiku menyentuh bumi,
membuka pintu bagi lembaran baru
dalam kitab perjalanan yang panjang.
Kala itu, aku terpaku di tepi jalan kehidupan.
Pikiran berlayar di samudra perenungan,
sementara hati sibuk merawat keyakinan.
Dua persimpangan membentang di hadapan,
masing-masing menyimpan arah dan harapan.
Antara bernaung di bawah panji organisasi
atau menempuh perjalanan di luar lingkarannya.
Hingga pada akhirnya,
seberkas cahaya menembus kabut kebimbangan.
Kukumpulkan keberanian dari sisa keraguan,
lalu kupilih satu jalan untuk kutapaki.
Jalan yang tak selalu landai,
yang menghadirkan kerikil di setiap langkah,
serta menguji keteguhan di tanah Jember,
tempat keberanian ditempa oleh waktu
dan kedewasaan tumbuh melalui proses.
Kini kusadari,
hidup adalah peta dengan banyak persimpangan.
Tak setiap perjalanan harus beriringan,
tak setiap arah mesti mengikuti jejak yang sama.
Ada kalanya seseorang harus melangkah
menjauhi keramaian untuk menemukan tujuannya.
Maka, kuteguhkan hati,
kubentangkan langkah dengan keyakinan sendiri,
menyusuri jalan yang telah kupilih.
Hingga hari ini,
waktu telah mengukir banyak perubahan dalam diriku.
Aku tumbuh bukan sebagai bayang-bayang
dari perjalanan orang lain,
melainkan sebagai diriku sendiri.
Seseorang yang terus belajar membaca arah,
menemukan makna di setiap persinggahan,
dan menerima bahwa setiap manusia
memiliki jalan, proses, serta versinya sendiri.
Karya Frenki Adi
(Mahasiswa Prodi Ilmu Alquran dan Tafsir UINKHAS Jember asal Sumenep, Madura)



