Pena Menjaga Nyala, Puisi Karya Salim Abuzaid

Yulio Faruq Akhmadi • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 13:30 WIB
Ilustrasi Puisi Pena Menjaga Nyala (AI/IJal/Radar Jember)
Ilustrasi Puisi Pena Menjaga Nyala (AI/IJal/Radar Jember)

 

Pena Menjaga Nyala


Aku, Tunas Negeri
ditempa oleh guratan sejarah,  
dihembus oleh ruh kemerdekaan.  

Walau Pertiwi diselimuti kelam,  
bara tekadku takkan pernah padam.  
Ada sumpah yang terus menyala di relung dada  
untuk berbakti, untuk mengabdi  
dan menebar manfaat  
laksana samudra yang tak pernah surut.  

Menjadi kunang di gulita,  
tatkala bangsa memilih terlena dalam kelam.  

Langkah kecil ini kerap dikhianati  
oleh duri realita.  
Namun aku tak sedikitpun goyah.  
Di sini aku berdiri sebagai fondasi,  
menjadi kalam yang mengobarkan nalar,  
menjadi bara yang menghidupkan literasi  
yang hanyut dalam nestapa.  

Kakiku sempat rapuh,  
terdampar di samudra sunyi.  
Hingga datang bisik seseorang 
yang tak pernah kuduga,  
Dari jiwa yang Tuhan bisikan untukku:  

"Kami bangga ada tunas sepertimu.  
Jangan pernah lelah memperjuangkan zamrud di masa depan.  
Kau perkasa. Jagalah nyala.  
Teruslah melangkah dan menoreh karya."  

Pada akhirnya aku mengerti,  
di ambang menyerah dan runtuh,  
Tuhan selalu punya bisikan terbaik  
untuk menuntunku pada takdir langkah  
yang harus kutunaikan.

Karya: Salim Abuzaid, Founder @Bersuaralewatkarya._ dan Pegiat Literasi

 

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
Salim Abuzaid puisi