Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pena di Sisi Tidur, Puisi Karya Muhammad Taofik

Sidkin
Penulis: Sidkin❯
Ilustrasi Puisi pena. (Ijal/AI/Halojember)
Ilustrasi Puisi pena. (Ijal/AI/Halojember)

Advertisement

 

Pena di Sisi Tidur

Malam menyisakan satu halaman
yang belum juga selesai.
Pena tergeletak di samping kepala,
seperti seseorang
yang lupa pulang.

Advertisement

Aku tidur sebentar,
sementara beberapa kata
masih berjalan di dalam kepala.

Pagi nanti,
barangkali ada yang berubah.
Atau hanya tinta
yang semakin berkurang.

 

Advertisement

Karya Muhammad Taofik, Mahasiswa Sejarah UIN  KHAS Jember asal Probolinggo.

Advertisement

Artikel Terkait

Yogya Malam Hari, Puisi Karya Novia Ulfa Isnaini

Yogya Malam Hari, Puisi Karya Novia Ulfa Isnaini

Yogya malam hari adalah langit yang terbuka dengan gemerlap bintang yang tertahan di dalamnya Lampu bersinar kekuning-kuningan, bilik mungil namun sejuta nektar, bak madu yang dihisap kupu kupu.

Sebelum Menjadi Asap, Puisi Karya Muhammad Taofik

Sebelum Menjadi Asap, Puisi Karya Muhammad Taofik

Tak ada yang menyebut proses itu sebagai kematian. Orang-orang menyebutnya pengeringan. Di meja linting, sehelai daun dipertemukan dengan api. Ia terbakar agar sesuatu yang lain bisa menyala.

Kota Tanpa Langit, Puisi Karya Syariful Hidayat

Kota Tanpa Langit, Puisi Karya Syariful Hidayat

Di kota ini, langit pernah tinggal di atas kepala, sebelum gedung-gedung tumbuh dengan gagah. Pagi pun datang berwajah abu-abu. Matahari tertahan di balik asap, sementara ribuan roda mengunyah jalan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer